Apapun Agama yang Kamu Yakini, Semuanya Akan Kembali Kepada Allah Yang Maha Esa


Dan apakah itu…. Reinkarnasi ?
Dulu kita menerima pelajaran, bahwa bila mati, didatangi malaikat. Diadili di dalam kubur, setelah selesai,  dengan perhitungan dosa-dosa kita, langsung dibawa/ diantar  masuk surga jannatun na’im.
Tanpa meragukan jalan fikiran ini, bila kita pelajari ayat-ayat berikut, hidup itu belum selesai disitu saja.

Dalam agama Hindu dan Budha disebutkan/ diterangkan, apabila orang mati dalam keadaan” grafik hi-dupnya” di dunia menurun, akan dilahirkan kembali dalam keadaan yang tidak nyaman dari sebelum-nya. Kalau dulunya hidup sebagai orang kaya, lahir berikutnya akan dilahirkan sebagai orang miskin yang sengsara, bahkan kalau dulunya banyak melakukan perbuatan dosa/ jahat, akan lahir kembali sebagai binatang. Sapi, babi atau lainnya. Bukankah itu identik atau mirip dengan apa yang diuraikan dalam Qur-’an ?

Lagi Membaca/ Belajar Al Qur’an


Lama rasanya tidak menulis, menuangkan, apa yang sebetulnya disumbangkan dari fikiran ini, (mudah-mudahan) bermanfaat untuk orang lain /sesama. Dan tentu saja tidak mendatangkan murka Allah.

Sering kita menerima nasehat atau pemberitahuan dari orang-orang tertentu, bahwa belajar sendirian itu TIDAK BAIK akibatnya, bisa tersesat. Sehingga kesan yang diterima, belajar sendiri itu TIDAK BENAR. Harus dengan guru. Menunggu guru yang lebih tahu. Sehingga tidak sedikit yang perlu guru “menunggu guru” atau dalam pencarian guru yang belum ada/ datang itu , dia TAKUT belajar sendiri pada hal keinginan untuk belajar itu benar-benar ingin menjadi baik. (Lebih baik dari keadaan sebelumnya). Terlebih-lebih bila yang hendak dipelajari itu Kitab Qur’an.

Jadi, jika belum ada guru atau dalam keadaan khusus/ tertentu terpaksa harus membuka atau belajar sendiri, apakah tidak boleh ? Dan pasti tersesat ?

Nikmat (dari Allah)


Sesungguhnya kenikmatan itu luas sekali artinya, adalah bagian dari hidup yang dapat kita jangkau dengan fikiran (kebijakan) kita sebagai berikut:
Dalam kehidupan sehari-hari, yang kita alami apapun itu, asal di(kita) rasa enak atau nyaman, kita katakan/ putuskan bahwa itu nikmat. Dan memang itulah yang kita dapat sebagai pengalaman hidup (belajar) ,  dari didikan orang tua ataupun sekolah dan menjadi pandangan hidup/ cara berpikir kita, selanjutnya. Kita dapat menyelami/ ambil contoh sebagai berikut (dalam Qur’an) :

02:47 ……. Hai Bani Isral, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat = selalu diampuni dosa dan kedurhakaannya yang sering mereka ingkarkan terhadap Allah.

Lagi, Melihat Tuhan


Apakah untuk berbuat kebaikan, (padahal kebaikan itu untuk dirimu sendiri), kamu harus lebih dulu melihat Allah ? (=  Untuk  jaminan/ keyakinan itu ?).
Padahal ketika Allah menciptakanmu, tidak mengharapkan (jaminan) apa-apa darimu, tidak supaya medapatkan balasan apapun dari kamu, tapi semata-mata untuk menyatakan kasihNya bagi kamu.

Dalam tulisan-tulisan saya terdahulu telah sering dikabarkan/ dijelaskan, Tuhan itu DEKAT.
56 : 81 ….. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini ?
56 : 82 ….. kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.
56 : 83 ….. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan
56 : 84 ….. padahal ketika itu kamu melihat ?(=memandangnya)
56 : 85 ….. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat

Nasib, Takdir, Apakah Itu ?



Nasib
Nasib itu  bisa diubah (dan ditentukan) dengan usaha manusia. Marilah kita renungi ayat-ayat yang berikut ini.

05 : 03 ……  Diharamkan  bagimu  (memakan)  bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas  nama  selain Allah, yang  tercekik yang dipukul, yang  jatuh, yang  ditanduk, dan yang diterkam  binatang  buas
Kecuali kamu sempat menyembelihnya, dan (diharamkan  juga)  mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir putus asa (mengalahkan) agamamu  sebab itu  janganlah  kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah  Kusempurnakan untuk  kamu agamamu, dan telah  Kucukupkan  kepadamu ni’mat-Ku , dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Maka barangsiapa  karena  kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya  Allah Maha Pengampun  lagi  Maha  Penyayang.

“Hari Ini Lebih Baik Dari Kemarin”


Kata-kata ini sering diucapkan siapa saja, sebagai semboyan (peringatan) bahwa kita makin hari sepatutnya makin baik. Dalam segala hal. Penekanannya adalah, kelakuan atau perilaku dalam kehidupan kita. Dalam agama apapun, “yang beriman” meyakini adanya kehidupan sesudah ma-ti. Dan itu berlangsung kekal, kelanjutannya adalah apakah kita selamat pada keadaan demiki-an itu. Sehingga disadari atau tidak, semua  masing-masing  berusaha (berlomba ?) untuk men-capainya. Tenteram, damai dalam hati (perasaan), yang berarti selamat dengan abadi.

Janji Allah sesuai yang kamu katakan.
51 : 22…. Sungguh kamu dulu lalai tentang  (peristiwa) itu, lalu Kami singkapkan (tutup) yang menutupi (matamu) sehingga  pada hari ini penglihatanmu sangat tajam.
51 : 23…. Dan (malaikat) yang menyertainya berkata :” inilah (catatan perbuatan) yang ada pada-ku.
54 :17,22, …. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran  ?

Mengapa Kamu Disuruh Kasih Sayang ?


Karena  Allah  Maha Kasih Sayang, Dia mengasihi kamu . Kamu  dulu  tidak ada kemudian  Dia menciptakan kamu, agar kamu  tahu bahwa Dia mengasihi kamu
19 : 09…Tuhan berfirman:”(Demikianlah) …… Tuhan berfirman:”Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya  telah  Aku ciptakan  kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu)  itu  belum ada sama sekali”.

Dia  memberi contoh dan pelajaran  kasih sayang  kepadamu dengan menyuruh  kamu  mengasihi kedua orang  tuamu
17 : 24 …. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucap-kanlah:” Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.